Jogja-Film “Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi” adalah film besutan Hanung Bramantyo yang terinspirasi dari berbagai cerita rakyat serta teori yang beredar seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965. Film ini akan tayang perdana di Rotterdam Film Festival, tahun 2026.
"Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi” yang bernuansa horor misteri ini dibahas dalam workshop dan talkshow film tersebut di AMIKOM Yogyakarta, Senin, 1 Desember 2025. Selain sutradara, sejumlah pemain film tersebut juga hadir di acara menyemarakkan suasana.
Hanung Bramantyo menjelaskan, ada dua kejadian yang dianggap horor dalam sejarah di Indonesia. Yang pertama adalah tahun 1965, di mana terjadi pembantaian lebih dari 1 juta orang hanya karena dituduh komunis. Yang kedua adalah peristiwa Mei 1998, di mana terjadi banyak penculikan warga, dan terjadi pemerkosaan massal yang dialami wanita suku Tionghoa.
“Keduanya tidak pernah terinterpretasikan dengan baik,” ujar Hanung.
Ia ingin menghadirkan situasi horor itu dalam film barunya ini. Bolong artinya menurut Hanung adalah lubang, yang merujuk pada lubang buaya tempat tujuh Pahlawan Revolusi dibunuh tahun 65, yang fakta sejarahnya hingga kini terus ditutupi oleh pemerintah.
"Melalui film ini saya mengungkapkan kemarahan saya kepada negara ini, kenapa negara ini begitu tidak mau terbuka akan peristiwa 50 tahun lalu, tentang pembunuhan itu,” kata dia.
Ia menambahkan, film ini diawali dari setting waktu tahun 1964. Sehingga film ini mencoba mengisahkan apa yang terjadi satu tahun sebelum peristiwa berdarah tersebut.
“Di suatu desa yang namanya Lubang Buaya,” kata dia.
Hanung menyadari, isu film yang digarapnya ini sangat sensitif, dan berpotensi dilarang tayang di dalam negeri. Namun ia masih optimis film ini bisa diputar secara luas di Indonesia.
“Saya masih optimis pemerintah tidak akan kembali ke masa lalu, seperti Orde Baru,” kata dia.
Anya Zen, salah satu pemain yang kelahiran 1997 mengaku sempat menerima propaganda tentang peristiwa G/30/S waktu kecil di sekolah. Dan narasi itulah yang diyakininya waktu itu.
"Itu berubah waktu aku berkesempatan melanjutkan studi di Belanda,” kata dia. (irv)
"Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi” yang bernuansa horor misteri ini dibahas dalam workshop dan talkshow film tersebut di AMIKOM Yogyakarta, Senin, 1 Desember 2025. Selain sutradara, sejumlah pemain film tersebut juga hadir di acara menyemarakkan suasana.
Hanung Bramantyo menjelaskan, ada dua kejadian yang dianggap horor dalam sejarah di Indonesia. Yang pertama adalah tahun 1965, di mana terjadi pembantaian lebih dari 1 juta orang hanya karena dituduh komunis. Yang kedua adalah peristiwa Mei 1998, di mana terjadi banyak penculikan warga, dan terjadi pemerkosaan massal yang dialami wanita suku Tionghoa.
“Keduanya tidak pernah terinterpretasikan dengan baik,” ujar Hanung.
Ia ingin menghadirkan situasi horor itu dalam film barunya ini. Bolong artinya menurut Hanung adalah lubang, yang merujuk pada lubang buaya tempat tujuh Pahlawan Revolusi dibunuh tahun 65, yang fakta sejarahnya hingga kini terus ditutupi oleh pemerintah.
"Melalui film ini saya mengungkapkan kemarahan saya kepada negara ini, kenapa negara ini begitu tidak mau terbuka akan peristiwa 50 tahun lalu, tentang pembunuhan itu,” kata dia.
Ia menambahkan, film ini diawali dari setting waktu tahun 1964. Sehingga film ini mencoba mengisahkan apa yang terjadi satu tahun sebelum peristiwa berdarah tersebut.
“Di suatu desa yang namanya Lubang Buaya,” kata dia.
Hanung menyadari, isu film yang digarapnya ini sangat sensitif, dan berpotensi dilarang tayang di dalam negeri. Namun ia masih optimis film ini bisa diputar secara luas di Indonesia.
“Saya masih optimis pemerintah tidak akan kembali ke masa lalu, seperti Orde Baru,” kata dia.
Anya Zen, salah satu pemain yang kelahiran 1997 mengaku sempat menerima propaganda tentang peristiwa G/30/S waktu kecil di sekolah. Dan narasi itulah yang diyakininya waktu itu.
"Itu berubah waktu aku berkesempatan melanjutkan studi di Belanda,” kata dia. (irv)