Fenomena klitih di Jogja makin hari memang semakin mengkhawatirkan. Angkanya bukan melonjak turun namun berangsur – angsur justru mengalami kenaikan. Cara atasi klitih di Jogja yang telah dilakukan bahkan dirasa sangat tidak efektif.
Dengan fenomena yang ada, tentu saja warga Jogja merasa risih, gamang, khawatir, dan ketakutan. Terkait fenomena Klitih, Sultan Hamengku Buwono X pun akhirnya angkat bicara. Apa yang disampaikan?
Dengan fenomena yang ada, tentu saja warga Jogja merasa risih, gamang, khawatir, dan ketakutan. Terkait fenomena Klitih, Sultan Hamengku Buwono X pun akhirnya angkat bicara. Apa yang disampaikan?
Cara Atasi Klitih di Jogja Tak Efektif, Ini Kata Sultan Hamengku Buwono X
Klitih di Jogja memang sangat marak. Ada banyak korban berjatuhan karena masalah sosial klitih tersebut. Korbannya beragam dan datang dari beragam usia, namun rata – rata berusia 13 sampai 19-an tahun. Pun pelaku kejahatannya, banyak yang masih muda dan masih jadi tanggungan orang tua.
Para pelaku kejahatan klitih ini mengincar korban di jalanan yang sepi dan ketika sendiri. Terkait hal tersebut, pemerintah kota setempat angkat bicara terkait penanganannya. Karena tentu, klitih menjadi masalah serius yang tak bisa dibiarkan begitu saja karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Awalnya, klitih di Jogja diantisipasi dengan beberapa cara. Cara atasi klitih di Jogja mulai dari sosialisasi tentang klitih itu sendiri sebagai langkah dan tindakan preventif menghadapi fenomena klitih, mengatasi klitih dengan melibatkan berbagai elemen dan tokoh masyarakat, menginisiasi aktivitas positif bagi kaum muda supaya kenakalan remaja dan ambisi tentang rasa ingin tahu remaja dapat tersalurkan ke hal – hal positif, menggiatkan patroli lingkungan melibatkan linmas dan kegiatan jagawarga, juga mengerahkan anggota TNI/ Polri untuk patroli di malam hari.
Semua tindakan preventif untuk mengatasi klitih tersebut bukan solusi tanpa anggaran. Pemerintah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah memberikan anggaran cukup besar untuk melaksanakan berbagai upaya preventif dan penanganan kejahatan jalanan klitih tersebut.
Hanya saja memang, cara tersebut masih belum sempurna dan tidak 100% efektif mengatasi klitih karena dianggap hanya mencegah belum mampu memberikan efek jerah. Terkait hal tersebut, Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara.
Beliau menyampaikan, bahwa cara atasi klitih di Jogja secara preventif sudah sangat bagus dan harus terus dijalankan, hanya saja pelaku harus mendapatkan efek jerah. Bagaimana cara supaya pelaku bisa mendapatkan efek jerah?
Salah satunya adalah dengan membawa kasus klitih ke ranah hukum. “Ya, kalau saya (menurut saya) kekerasan jalanan itu, saya minta polisi bisa bekerja sama untuk mengambil tindakan hukum,” Ungkap Sultan Hamengku Buwono X pada kesempatan wawancara dengan media.
Tak peduli berapa pun usianya, mereka harus mendapatkan hukuman yang pantas sebagai pembelajaran bahwa hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan karena sudah meresahkan lingkungan dan kota setempat.
Sejak fenomena klitih, angka masuknya wisatawan ke daerah – daerah yang ‘terindikasi’ klitih pun berkurang. Tentu hal tersebut sangat berdampak negatif bagi Jogja selaku kota wisata, termasuk bagi para UMKM karena dapat kehilangan sebagian pemasukannya.
Untuk itu, klitih tidak hanya bisa diatasi dengan pencegahan, tetapi dengan pemberian efek jerah salah satunya diproses hukum dan melibatkan aparat negara sebagai pemangku kebijakan hukum.
Selain itu, menurut Sultan Hamengku Buwono X, orang tua juga perlu turut andil dalam pemberantasan klitih. Caranya adalah dengan mengawasi kegiatan yang dilakukan anak, mengarahkan anak untuk beraktivitas secara positif, dan tidak membiarkan anak keluar malam.
Pengawasan orang tua bisa menjadi langkah utama dan pertama untuk mencegah bibit – bibit baru klitih bermunculan di Jogja.
Demikian sedikit informasi terkait fenomena klitih di Jogja sekaligus cara atasi klitih di Jogja yang bisa dijalankan. Semoga membawa manfaat khususnya untuk kalian yang ingin mendapatkan informasi terupdate tentang Jogja. Ikuti terus kami dan tunggu update artikel kami lainnya ya.
Para pelaku kejahatan klitih ini mengincar korban di jalanan yang sepi dan ketika sendiri. Terkait hal tersebut, pemerintah kota setempat angkat bicara terkait penanganannya. Karena tentu, klitih menjadi masalah serius yang tak bisa dibiarkan begitu saja karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Awalnya, klitih di Jogja diantisipasi dengan beberapa cara. Cara atasi klitih di Jogja mulai dari sosialisasi tentang klitih itu sendiri sebagai langkah dan tindakan preventif menghadapi fenomena klitih, mengatasi klitih dengan melibatkan berbagai elemen dan tokoh masyarakat, menginisiasi aktivitas positif bagi kaum muda supaya kenakalan remaja dan ambisi tentang rasa ingin tahu remaja dapat tersalurkan ke hal – hal positif, menggiatkan patroli lingkungan melibatkan linmas dan kegiatan jagawarga, juga mengerahkan anggota TNI/ Polri untuk patroli di malam hari.
Semua tindakan preventif untuk mengatasi klitih tersebut bukan solusi tanpa anggaran. Pemerintah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah memberikan anggaran cukup besar untuk melaksanakan berbagai upaya preventif dan penanganan kejahatan jalanan klitih tersebut.
Hanya saja memang, cara tersebut masih belum sempurna dan tidak 100% efektif mengatasi klitih karena dianggap hanya mencegah belum mampu memberikan efek jerah. Terkait hal tersebut, Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara.
Beliau menyampaikan, bahwa cara atasi klitih di Jogja secara preventif sudah sangat bagus dan harus terus dijalankan, hanya saja pelaku harus mendapatkan efek jerah. Bagaimana cara supaya pelaku bisa mendapatkan efek jerah?
Salah satunya adalah dengan membawa kasus klitih ke ranah hukum. “Ya, kalau saya (menurut saya) kekerasan jalanan itu, saya minta polisi bisa bekerja sama untuk mengambil tindakan hukum,” Ungkap Sultan Hamengku Buwono X pada kesempatan wawancara dengan media.
Tak peduli berapa pun usianya, mereka harus mendapatkan hukuman yang pantas sebagai pembelajaran bahwa hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan karena sudah meresahkan lingkungan dan kota setempat.
Sejak fenomena klitih, angka masuknya wisatawan ke daerah – daerah yang ‘terindikasi’ klitih pun berkurang. Tentu hal tersebut sangat berdampak negatif bagi Jogja selaku kota wisata, termasuk bagi para UMKM karena dapat kehilangan sebagian pemasukannya.
Untuk itu, klitih tidak hanya bisa diatasi dengan pencegahan, tetapi dengan pemberian efek jerah salah satunya diproses hukum dan melibatkan aparat negara sebagai pemangku kebijakan hukum.
Selain itu, menurut Sultan Hamengku Buwono X, orang tua juga perlu turut andil dalam pemberantasan klitih. Caranya adalah dengan mengawasi kegiatan yang dilakukan anak, mengarahkan anak untuk beraktivitas secara positif, dan tidak membiarkan anak keluar malam.
Pengawasan orang tua bisa menjadi langkah utama dan pertama untuk mencegah bibit – bibit baru klitih bermunculan di Jogja.
Demikian sedikit informasi terkait fenomena klitih di Jogja sekaligus cara atasi klitih di Jogja yang bisa dijalankan. Semoga membawa manfaat khususnya untuk kalian yang ingin mendapatkan informasi terupdate tentang Jogja. Ikuti terus kami dan tunggu update artikel kami lainnya ya.