Jogja, sebuah kota wisata yang masih mempertahankan budayanya sampai sekarang menjadi salah satu kota wisata terbaik yang ada di Indonesia. Banyak wisatawan datang ke kota tersebut untuk berwisata, namun ada satu hal yang tak boleh dilupakan yaitu memahami kebiasaan di Jogja.
Sama seperti kota – kota lain yang memiliki kebiasaan tersendiri sebagai tradisi masyarakatnya, Jogja juga demikian. Lantas, apa saja kebiasaan – kebiasaan di Jogja yang perlu dipahami oleh traveler? Di sini kita akan membahasnya!
Sama seperti kota – kota lain yang memiliki kebiasaan tersendiri sebagai tradisi masyarakatnya, Jogja juga demikian. Lantas, apa saja kebiasaan – kebiasaan di Jogja yang perlu dipahami oleh traveler? Di sini kita akan membahasnya!
Kebiasaan di Jogja yang Perlu Dipahami
1. Pagi sarapan soto, malam nongkrong di angkringanMasyarakat Jogja memiliki kebiasaan makan yang sangat unik. Banyak dari mereka yang terbiasa sarapan pagi dengan semangkuk soto dan malam harinya makan menu angkringan.
Karena itu, kalau di daerah lain sulit menemukan warung soto di pagi hari, di Jogja justru banyak banget warung soto yang buka pagi hari. Biasanya warung soto di Jogja buka sejak pukul 06.00 – 11.00 WIB.
Sementara untuk makan malam di angkringan, menunya beragam. Kalian bisa pilih menu angkringan sesuai selera. Biasanya ada menu nasi bakar, nasi kucing, dan tersedia berbagai macam lauk bakar yang dapat dipilih mulai dari telur puyuh, tempe bakar, ayam bakar, usus, dan masih banyak lagi lainnya. Dijamin deh, kulineran di Jogja akan sangat bervariasi.
2. Makan dan minum makanan atau minuman serba manis
Sudah bukan rahasia lagi kalau orang Jogja lebih suka makanan atau minuman manis dibandingkan dengan makanan gurih atau asin dan minuman tawar. Salah satu buktinya adalah keberadaan gudeg yang sebenarnya merupakan lauk pendamping makanan namun memiliki cita rasa gurih, pedas dan sedikit manis.
Hal tersebut menjadi salah satu tanda atau bukti bahwa orang Jogja memang suka olahan manis. Jadi, kalau kamu berlibur ke Jogja harus siap – siap juga dengan hal ini ya!
Untuk yang kurang suka manis, kalian wajib request menu yang diinginkan supaya rasanya jangan terlalu manis. Misalkan ketika akan membeli teh, kalian bisa request untuk dibuatkan teh yang low sugar atau gulanya sedikit supaya tidak kemanisan karena sangat jarang dijual teh tawar di kota wisata ini.
3. Tradisi gerobak sapi hias di pasar hewan Jangkang, Sleman, setiap hari pasaran
Apa itu hari pasaran?
Hari pasaran merupakan hari di mana penjual hewan berkumpul di pasar hewan untuk menjajakan hewan yang diperdagangkannya. Biasanya, tiap daerah punya hari pasaran yang berbeda – beda. Untuk Sleman, hari pasaran di sana jatuh pada Minggu wage.
Pada hari tersebut, pemilik ternak khususnya pemilik sapi akan membawa sapi yang nantinya akan diperdagangkan ke pasar hewan Jangkang dengan menggunakan gerobak sapi hias. Gerobak tersebut adalah gerobak sapi pada umumnya yang dihias dengan aneka warna yaitu merah, kuning, dan juga biru.
4. Pembuatan batik tulis Jogja yang masih manual
Meski sudah banyak pabrik pembuat batik tulis, namun tradisi pembuatan batik secara manual langsung menggunakan tangan masih berlaku di Jogja. Masih cukup banyak galeri batik dan toko batik di wilayah Jogja mempertahankan proses pembuatan batik tulis secara manual.
Kalau tak percaya, kalian bisa datang saja ke daerah Malioboro atau ke Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Di sana, warganya mewariskan kemampuan membatik secara turun temurun kepada anak cucu mereka.
Di sana juga berbagai motif batik khas Jogja dipertahankan dan dibuat dengan sangat indah lagi anggun. Motif batik Sida Mukti, Sida Luhur, Sida Asih, Sekar Jagad, sampai Wahyu Tumurun, semuanya masih bisa disaksikan dengan indah.
Karena itu, kalau pergi ke Jogja, belum lengkap rasanya kalau masih belum membeli kain batik yang proses pembuatan batiknya masih dilakukan secara manual dengan tangan.
5. Cukur rambut di tukang cukur rambut keliling
Meski sudah banyak barber shop di penjuru kota Jogja, namun tukang cukur rambut keliling masih menunjukkan batang hidungnya. Di kota yang kental dengan budayanya ini, tukang cukur rambut keliling masih dapat kita temukan dengan sangat mudah.
Beberapa tukang cukur rambut keliling mangkal di sekitar alun – alun utara Yogyakarta, di sekitar Malioboro, dan juga di berbagai pasar tradisional. Mereka biasanya menawarkan jasanya dengan menggunakan sepeda ontel dan membawa kursi serta peralatan cukur sederhana.
Kalau kalian berada di Jogja, rambut kebetulan sedang gondrong, dan ingin menikmati cukur dengan suasana yang berbeda, bisa banget mencoba cukur rambut di tukang cukur rambut keliling tersebut. Adapun biaya cukurnya sangat murah, mulai dari 10 – 15 ribu rupiah saja.
Itulah beberapa hal yang menjadi kebiasaan di Jogja yang perlu diketahui traveler sebelum liburan ke kota wisata tersebut. Semoga menjadi informasi yang membawa manfaat ya.
Karena itu, kalau di daerah lain sulit menemukan warung soto di pagi hari, di Jogja justru banyak banget warung soto yang buka pagi hari. Biasanya warung soto di Jogja buka sejak pukul 06.00 – 11.00 WIB.
Sementara untuk makan malam di angkringan, menunya beragam. Kalian bisa pilih menu angkringan sesuai selera. Biasanya ada menu nasi bakar, nasi kucing, dan tersedia berbagai macam lauk bakar yang dapat dipilih mulai dari telur puyuh, tempe bakar, ayam bakar, usus, dan masih banyak lagi lainnya. Dijamin deh, kulineran di Jogja akan sangat bervariasi.
2. Makan dan minum makanan atau minuman serba manis
Sudah bukan rahasia lagi kalau orang Jogja lebih suka makanan atau minuman manis dibandingkan dengan makanan gurih atau asin dan minuman tawar. Salah satu buktinya adalah keberadaan gudeg yang sebenarnya merupakan lauk pendamping makanan namun memiliki cita rasa gurih, pedas dan sedikit manis.
Hal tersebut menjadi salah satu tanda atau bukti bahwa orang Jogja memang suka olahan manis. Jadi, kalau kamu berlibur ke Jogja harus siap – siap juga dengan hal ini ya!
Untuk yang kurang suka manis, kalian wajib request menu yang diinginkan supaya rasanya jangan terlalu manis. Misalkan ketika akan membeli teh, kalian bisa request untuk dibuatkan teh yang low sugar atau gulanya sedikit supaya tidak kemanisan karena sangat jarang dijual teh tawar di kota wisata ini.
3. Tradisi gerobak sapi hias di pasar hewan Jangkang, Sleman, setiap hari pasaran
Apa itu hari pasaran?
Hari pasaran merupakan hari di mana penjual hewan berkumpul di pasar hewan untuk menjajakan hewan yang diperdagangkannya. Biasanya, tiap daerah punya hari pasaran yang berbeda – beda. Untuk Sleman, hari pasaran di sana jatuh pada Minggu wage.
Pada hari tersebut, pemilik ternak khususnya pemilik sapi akan membawa sapi yang nantinya akan diperdagangkan ke pasar hewan Jangkang dengan menggunakan gerobak sapi hias. Gerobak tersebut adalah gerobak sapi pada umumnya yang dihias dengan aneka warna yaitu merah, kuning, dan juga biru.
4. Pembuatan batik tulis Jogja yang masih manual
Meski sudah banyak pabrik pembuat batik tulis, namun tradisi pembuatan batik secara manual langsung menggunakan tangan masih berlaku di Jogja. Masih cukup banyak galeri batik dan toko batik di wilayah Jogja mempertahankan proses pembuatan batik tulis secara manual.
Kalau tak percaya, kalian bisa datang saja ke daerah Malioboro atau ke Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Di sana, warganya mewariskan kemampuan membatik secara turun temurun kepada anak cucu mereka.
Di sana juga berbagai motif batik khas Jogja dipertahankan dan dibuat dengan sangat indah lagi anggun. Motif batik Sida Mukti, Sida Luhur, Sida Asih, Sekar Jagad, sampai Wahyu Tumurun, semuanya masih bisa disaksikan dengan indah.
Karena itu, kalau pergi ke Jogja, belum lengkap rasanya kalau masih belum membeli kain batik yang proses pembuatan batiknya masih dilakukan secara manual dengan tangan.
5. Cukur rambut di tukang cukur rambut keliling
Meski sudah banyak barber shop di penjuru kota Jogja, namun tukang cukur rambut keliling masih menunjukkan batang hidungnya. Di kota yang kental dengan budayanya ini, tukang cukur rambut keliling masih dapat kita temukan dengan sangat mudah.
Beberapa tukang cukur rambut keliling mangkal di sekitar alun – alun utara Yogyakarta, di sekitar Malioboro, dan juga di berbagai pasar tradisional. Mereka biasanya menawarkan jasanya dengan menggunakan sepeda ontel dan membawa kursi serta peralatan cukur sederhana.
Kalau kalian berada di Jogja, rambut kebetulan sedang gondrong, dan ingin menikmati cukur dengan suasana yang berbeda, bisa banget mencoba cukur rambut di tukang cukur rambut keliling tersebut. Adapun biaya cukurnya sangat murah, mulai dari 10 – 15 ribu rupiah saja.
Itulah beberapa hal yang menjadi kebiasaan di Jogja yang perlu diketahui traveler sebelum liburan ke kota wisata tersebut. Semoga menjadi informasi yang membawa manfaat ya.