Selamat malam. kali ini, gw ingin menyajikan sebuah cerita yg dulu, sempat booming di sekolah gw, mungkin bukan hanya sekolah gw, lebih tepatnya, semua sekolah di kota gw, tentang sebuah cerita yg masih terpatri dalam ingatan gw, tentang, kehadiran mereka yg nyata adanya!!
seperti yg gw katakan, cerita ini dulu, hampir di ketahui semua anak sekolah, mungkin ada pesan yang ingin di sampaikan dalam cerita ini, sehingga cerita ini sangat cepat tersebar, pesan itu adalah, "kami ada" , dan gw akan menceritakanya dari sudut pandang gw sebagai dia.
dia, yg mengalami semuanya, sehingga pesan ini bisa sampai kepada kalian. dia, adalah gw, mereka memanggil gw dengan nama "Dayuh" dan darisini, mari kita mulai, memulai peran gw, sebagai Dayuh.
"Yuh, ayok muleh, mumpung rung bengi nemen" (Yuh, pulang yuk, mumpung belum larut) kata teman ngaji gw, Pandu. gw memandang ke langit, dari ubin langgar (surah) yang dingin, disana, langit sudah menghitam, dengan cepat, gw bereskan peralatan belajar gw, memasukkanya dalam kresek
setelah mencari dimana sandal gw berada, dengan cekatan, gw menyusul Pandu, yang sudah berjalan cepat menelusuri jalan setapak persampingan sawah. susah memang tinggal di desa pelosok, untuk belajar pun, harus pergi ke balai desa, karena hanya disana, lampu terang benderang
tidak seperti di rumah, listrik saja belum pasang, bukan cuma gw, namun, hampir semua rumah, jarang ada yang pasang, karena mahalnya biaya. namun, mata gw teralihkan pada Pandu, yg berjalan, semakin cepat, nyaris seperti berlari, gw pun, mengikutinya dengan langkah cepat juga
"jok banter-banter tah, nek melaku" (jangan cepat-cepat tah kalau jalan) kata gw setengah berteriak. Pandu masih berjalan cepat, seakan di kejar sesuatu. "kebengen Yuh, ben cepet sampe omah, wedi aku nek liwat kebon kelopo" (kemalaman kita, biar cepat sampai rumah, takut aku, kalau lewat kebun kelapa) "kebon kelopo cak Sarmbon" (kebun kelapa milik pak Sarmbun!) "iyo" kata Pandu, "onok opo seh nggok kunu, kok Wedi" (memang ada apa sih disitu, kok takut) kata gw bingung. "cah iki, gak tau krungu tah" (anak ini, emang gak pernah dengar ya)
Pandu berhenti, ia melotot sembari berbisik di telinga gw, "wingi, onok sing liwat kunu bengi, trus, onok suoro nyelok-nyelok, eroh, teko ndi suoro iku?" (kemarin ada yg lewat situ, ada suara memanggil, tahu darimana suara itu terdengar?) gw cuma menggelengkan kepala.
"tekan nduwor wit kelopo, eroh, opo sing nyelok" (dari atas pohon kelapa, tahu, apa yang memanggil) tanya Pandu, gw terdiam cukup lama, memproses ucapan Pandu, yg masih menunjukkan ekspresi ngeri. "opo kui" (memang apa?) Pandu meminta gw mendekatkan telinga lebih dekat
"gok nduwor onok" (diatas ada) Pandu terdiam lama, "Kemamang" gw mengerutkan dahi, mencerna ucapanya lagi. tidak ada yang tidak mengenal nama itu. namun, bukan nama itu yg di takuti, jarang orang takut dengan kemamang, yg mereka takutkan bahkan bukan itu,
melainkan, siapa pemilik kemamang itulah yg di takuti oleh orang. "onok Janggor ireng lak'an" (ada Janggor hitam dong) Pandu mengangguk, "mangkane, ayo cepet" (makanya ayok cepat) ucap Pandu, setengah berlari, gw pun mengikutinya, sebenarnya, hal seperti ini sudah sering terdengar di desa ini, mulai dari Kemamang (binatang berwujud api), Janggor ireng yg menyerupai wujud manusia dengan kulit hitam, sampai kuntilanak bahkan pocong, namun gw, tidak pernah percaya akan hal itu, tidak! bahkan, sampai saat ini. semua itu, hanya Mitos belaka.
Mitos yang di buat hanya agar anak-anak tidak bersikap nakal, mitos untuk membuat orang kemudian percaya dan menjadi takut, mitos, yg hanya di buat sebagai penghantar pesan dengan tujuan yg tidak di ketahui, namun, semua berubah, ketika gw meninggalkan desa ini.
gw masih inget bagaimana Pandu mengantar gw sampai ke stasiunt, bagaimana gw mengucapkan salam perpisahan, dan kami tidak pernah bertemu lagi. di kota, bapak yg seorang PNS, mendapat rumah dinas baru, semua itu merubah ekonomi keluarga gw sejak bapak naik pangkat.
gw, tentu harus siap dengan gaya hidup yg baru, punya sekolah baru, punya teman baru, bahkan pada hari itu, seolah menjadi titik dari semua hal baru yg gw miliki, dimana ibuk, melahirkan seorang anak perempuan, adik gw, Hanif.
dihari pertama sekolah, gw banyak mendapatkan teman baru, namun yg paling dekat dengan gw, hanya, Tio dan Hendra, 2 anak yg kelak akan menjungkirbalikkan dunia gw, sampai gw gak tau lagi, bagaimana biar gw tetap sadar dengan dunia ini.
siang itu, Tio dan Hendra, banyak membahas tentang cerita-cerita hantu, mulai dari penanggalan jawa (prambon) sampai ke cerita kuntilanak di jln, Taru**ne****, jujur, gw gak peduli dengan itu
semakin lama, cerita itu terus menerus terdengar di telinga gw, sampai, gw akhirnya muak, dan mengatakan, bahwa, gak ada yang namanya kuntilanak, gak ada yg namanya hantu, apalagi percaya pada penanggalan jawa (prambon) semua itu, hanya mitos.
seperti yg gw katakan, cerita ini dulu, hampir di ketahui semua anak sekolah, mungkin ada pesan yang ingin di sampaikan dalam cerita ini, sehingga cerita ini sangat cepat tersebar, pesan itu adalah, "kami ada" , dan gw akan menceritakanya dari sudut pandang gw sebagai dia.
dia, yg mengalami semuanya, sehingga pesan ini bisa sampai kepada kalian. dia, adalah gw, mereka memanggil gw dengan nama "Dayuh" dan darisini, mari kita mulai, memulai peran gw, sebagai Dayuh.
"Yuh, ayok muleh, mumpung rung bengi nemen" (Yuh, pulang yuk, mumpung belum larut) kata teman ngaji gw, Pandu. gw memandang ke langit, dari ubin langgar (surah) yang dingin, disana, langit sudah menghitam, dengan cepat, gw bereskan peralatan belajar gw, memasukkanya dalam kresek
setelah mencari dimana sandal gw berada, dengan cekatan, gw menyusul Pandu, yang sudah berjalan cepat menelusuri jalan setapak persampingan sawah. susah memang tinggal di desa pelosok, untuk belajar pun, harus pergi ke balai desa, karena hanya disana, lampu terang benderang
tidak seperti di rumah, listrik saja belum pasang, bukan cuma gw, namun, hampir semua rumah, jarang ada yang pasang, karena mahalnya biaya. namun, mata gw teralihkan pada Pandu, yg berjalan, semakin cepat, nyaris seperti berlari, gw pun, mengikutinya dengan langkah cepat juga
"jok banter-banter tah, nek melaku" (jangan cepat-cepat tah kalau jalan) kata gw setengah berteriak. Pandu masih berjalan cepat, seakan di kejar sesuatu. "kebengen Yuh, ben cepet sampe omah, wedi aku nek liwat kebon kelopo" (kemalaman kita, biar cepat sampai rumah, takut aku, kalau lewat kebun kelapa) "kebon kelopo cak Sarmbon" (kebun kelapa milik pak Sarmbun!) "iyo" kata Pandu, "onok opo seh nggok kunu, kok Wedi" (memang ada apa sih disitu, kok takut) kata gw bingung. "cah iki, gak tau krungu tah" (anak ini, emang gak pernah dengar ya)
Pandu berhenti, ia melotot sembari berbisik di telinga gw, "wingi, onok sing liwat kunu bengi, trus, onok suoro nyelok-nyelok, eroh, teko ndi suoro iku?" (kemarin ada yg lewat situ, ada suara memanggil, tahu darimana suara itu terdengar?) gw cuma menggelengkan kepala.
"tekan nduwor wit kelopo, eroh, opo sing nyelok" (dari atas pohon kelapa, tahu, apa yang memanggil) tanya Pandu, gw terdiam cukup lama, memproses ucapan Pandu, yg masih menunjukkan ekspresi ngeri. "opo kui" (memang apa?) Pandu meminta gw mendekatkan telinga lebih dekat
"gok nduwor onok" (diatas ada) Pandu terdiam lama, "Kemamang" gw mengerutkan dahi, mencerna ucapanya lagi. tidak ada yang tidak mengenal nama itu. namun, bukan nama itu yg di takuti, jarang orang takut dengan kemamang, yg mereka takutkan bahkan bukan itu,
melainkan, siapa pemilik kemamang itulah yg di takuti oleh orang. "onok Janggor ireng lak'an" (ada Janggor hitam dong) Pandu mengangguk, "mangkane, ayo cepet" (makanya ayok cepat) ucap Pandu, setengah berlari, gw pun mengikutinya, sebenarnya, hal seperti ini sudah sering terdengar di desa ini, mulai dari Kemamang (binatang berwujud api), Janggor ireng yg menyerupai wujud manusia dengan kulit hitam, sampai kuntilanak bahkan pocong, namun gw, tidak pernah percaya akan hal itu, tidak! bahkan, sampai saat ini. semua itu, hanya Mitos belaka.
Mitos yang di buat hanya agar anak-anak tidak bersikap nakal, mitos untuk membuat orang kemudian percaya dan menjadi takut, mitos, yg hanya di buat sebagai penghantar pesan dengan tujuan yg tidak di ketahui, namun, semua berubah, ketika gw meninggalkan desa ini.
gw masih inget bagaimana Pandu mengantar gw sampai ke stasiunt, bagaimana gw mengucapkan salam perpisahan, dan kami tidak pernah bertemu lagi. di kota, bapak yg seorang PNS, mendapat rumah dinas baru, semua itu merubah ekonomi keluarga gw sejak bapak naik pangkat.
gw, tentu harus siap dengan gaya hidup yg baru, punya sekolah baru, punya teman baru, bahkan pada hari itu, seolah menjadi titik dari semua hal baru yg gw miliki, dimana ibuk, melahirkan seorang anak perempuan, adik gw, Hanif.
dihari pertama sekolah, gw banyak mendapatkan teman baru, namun yg paling dekat dengan gw, hanya, Tio dan Hendra, 2 anak yg kelak akan menjungkirbalikkan dunia gw, sampai gw gak tau lagi, bagaimana biar gw tetap sadar dengan dunia ini.
siang itu, Tio dan Hendra, banyak membahas tentang cerita-cerita hantu, mulai dari penanggalan jawa (prambon) sampai ke cerita kuntilanak di jln, Taru**ne****, jujur, gw gak peduli dengan itu
semakin lama, cerita itu terus menerus terdengar di telinga gw, sampai, gw akhirnya muak, dan mengatakan, bahwa, gak ada yang namanya kuntilanak, gak ada yg namanya hantu, apalagi percaya pada penanggalan jawa (prambon) semua itu, hanya mitos.